Akhirnya aku mengerti
aku menemukan serangga yang mendengung di
puisimu. ia masih menikmati bunga rumput yang
kau tulis aromanya. akan Tetapi, tak kutemukan
kau, yang selama ini aku cari.
mengapa aku betah setia,pada masa lalu yang tiada
apakah musim telah mengubahku menjadi kupu2
jantan,yang bersarang di pohon terlarang.
akankah kau membiarkanku memburumu wahai
masa lalu? kau seperti hujan yang singgah di hutan
gerimis, ditangkap daun keladi yang kalis. kau
menghindar dan pergi. mengapa kau
meninggalkan jejak aroma bungga kalau tak ingin?
apakah ini perangkap? sengaja kau terbangkan
sayap kupu kupu, dan menawan mataku agar
tersihir kabut pagi. kau buat aku tersesat bersama
keindahan, sedang kau berjalan menjauh.
mengapa tak ada kata sepakat yang kau tulis di
puisimu. semua hanya kata ketidak pastian. kata
kata yang patah, huruf yang berserak, jeda sunyi
senyap, hanya jarak yang membatasi matamu,
mataku. mukin hanya tulisan ini yang menjadi
jembatan atara rasamu dan rasaku diantara kita,
sedang hati, telah jauh mengelana.
aku percaya suatu hari nanti kata kata akan
terbentuk dan memilih akhirnya. entah menjadi
setumpuk kertas kering atau segores tulisan di
dingding fb. disana ada namaku dan namamu
yang begitu tua dimabuk lupa mengingat masa
kecil ketika belajar menangis untuk masa dewasa.
aku mengerti sekarang, kesetiaan tak pernah
dilupakan walau sederas apapun cuaca berlari.
walau sekencang apapun tiupan aroma puisi,
WALAU TERTATIH MERINDUKANMU, Aku tak akan
DIMABUK USIA LALU LUPA PADAMU. sengaja aku
tulis angka usia satu,dua,tiga dan hampir empat di
dingding kamarku tempat mimpi menumbuh,
Semata, agar aku selalu ingat bahwa aku telah
setia.
# ke
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar